Site Loader

 

2.1 Burung Puyuh

            Burung puyuh dalam
istilah asing disebut dengan quail yang merupakan bangsa burung liar yang
mengalami proses domestikasi. Ciri khas yang membedakan burung puyuh jantan dan
betina adalah pada warna, suara, dan bobot tubuh. Burung puyuh betina memiliki
warna bulu leher dan dada bagian atas berwarna lebih terang serta terdapat
totol – totol cokelat tua pada bagian leher sampai dada. Sedangkan burung puyuh
jantan, bulu dadanya polos berwarna cokelat muda. Suara burung puyuh jantan
lebih besar dibandingkan dengan burung puyuh benina dan sebaliknya bobot burung
puyuh benita lebih berat dibandingkan dengan bobot burung puyuh jantan
(Giuliano & Selph, 2005).

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

            Puyuh merupakan
jenis burung yang tidak dapat terbang, memiliki ukuran tubuh yang kecil dan
kaki yang pendek. Jenis burung puyuh yang biasa dipelihara di Indonesia adalah
spesies Coturnix-coturnix Japonica yang memiliki panjang sekitar 19 cm,
berbadan bulat, berekor pendek dengan paruh yang kuat dan pendek serta berjari
kaki empat dan berwarna kekuning-kuningan dengan susunan tiga jari menghadap
kebelakang (Nugroho dan Maryun, 1986).

            Menurut Hines
(2005), bahwa burung puyuh mulai diternakkan oleh masyarakat di negara Amerika
Serikat pada tahun 1870 dan mulai tditernakkan di Indonesia pada akhir tahun
1979 yakni di daerah Dumatera, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah.

            Anak burung puyuh
yang berumur satu hari disebut Day Old Quail (DOQ) yang besarnya seukuran
dengan jari, dengan bobot badannya 7-10 g dan berbulu halus. Burung puyuh yang
berumur 42 hari, bobot badannya mencapai 120 g. Burung puyuh mengalami seleksi
genetik, menunjukkan  bobot badab jantan
betina sekitar 100 – 140 g, sedangkan betina lebih berat yaitu sekitar 120 –
160 g. Bobot badan burung puyuh rata – rata antara 150 – 160 g (Anggorodi,
1985).

            Di beberapa negara
termasuk Indonesia, burung puyuh diklasifikasikan pada kelompok burung
kesayangan ataugame bird yang selalu diburu baik untuk tujuan konsumsi atau
hanya sekedar hobi. Masyarakat Jawa mengenal burung puyuh dengan istilah gemak.
Burung puyuh merupakan salah satu jenis burung yang tidak bisa terbang, memiliki
ukuran tubuh yang relatif kecil memiliki kaki yang pendek, dapat diadu dan
bersifat kanibalisme (Randall dan Bolla, 2008)

            Meurut Suripta dan
Astuti (2007), burung puyuh spesies Coturnix-coturnix Japonica merupakan
spesies yang banyak diternak oleh produsen karena beberapa keunggulannya yaitu
cara pemeliharaannya yang mudah, produksi telur puyuh yang mencapai 130-300
butir per tahun dengan berat rata – rata 10 gram per butir, mempunyai daya
tahan yang tinggi terhadap penyakit, mempunyai siklus yang relatif pendek
dengan laju metabolisme yang tinggi dan mepunyai kemmpuan untuk menghasilkan
ketuunan sebanyak 3-4 generasi per tahun.

            Klasifikasi burung
puyuh (Hartono, 2004) :

            Kelas               : Aves

            Ordo                : Galiformes

            Sub ordo         : Phasianoidea

            Famili              : Phasianidaea

            Sub famili        : Phasianinae

Genus              : Coturnix

            Spesies            : Coturnix-coturnix Japonica

            Kandungan nutrisi
yang ada pada telur burung puyuh tidak kalah dengan kandungan nutrisi yang ada
pada telur unggas lainnya. Budidaya burung puyuh diyakini dapat menambah
penyediaan sumber protein hewani dan memberikan konsumen banyak pilihan dalam
verivikasi bahan pangan ditingkat keluarga. Kandungan protein dan lemak telur
burung puyuh cukup baik jika dibandingkan dengan telur dari unggas lainnya.
Kandungan proteinnya yang tinggi, tetapi kadar lemaknya yang rendah sehingga
sangat baik untuk kesehatan (Randall dan Bolla, 2018).

Perbedaan kandungan protein antara telur burung puyuh dengan telur
unggas lainnya tertera pada tabel 2.1

 

Tabel 2.1. Kandungan nutrisi berbagai telur unggas.

Jenis Unggas

Kandungan
Nutrisi (%)

Protein

Lemak

Karbohidrat

Abu

Ayam Ras
Ayam Buras
Itik
Angsa
Merpati
Kalkun
Burung Puyuh

12,7
13,4
13,3
13,9
13,8
13,1
13,1

11,3
10,3
14,5
13,3
12,0
11,8
11,1

0,9
0,9
0,7
1,5
0,8
1,7
1,6

1,0
1,0
1,1
1,1
0,9
0,8
1,1

Sumber : NRC (2004)

           

2.2 Kolesterol

            Kolesterol
merupakan komponen struktural esensial yang membentuk membran sel dan lapisan
eksterna lipoprotein plasma. Kolesterol dapat berbentuk kolesterol bebas atau
gabungan dengan asam lemak rantai panjang sebagai kolesterol ester. Kolesterol
ester merupakan bentuk penyimpanan kolesterol yang ditemukan pada sebagian
besar jaringan tubuh. Kolesterol juga mempunyai makna penting sebagai prekusor
sejumlah senyawa steroid seperti kortikosteroid, hormon seks, asam empedu dan
vitamin D (Murray dkk., 2009).

            Kolesterol adalah
suatu zat lemak yang beredar di dalam darah, berwarna kekuningan dan berupa
seperti lilin yang diproduksi oleh hati dan sangat diperlukan oleh tubuh.
Kolesterol merupakan golongan lipid yang tidak terhidrolisis dan merupakan
sterol utama dalam jaringan tubuh manusia. kolesterol yang diproduksi oleh
tubuh ada 2 jenis, yaitu kolesterol HDL (High Density Lipoprotein) yang biasa
disebut dengan kolesterol baik dan kolesterol LDL (Low Density Lipoprotein)
disebut dengan lemak jahat. Kolesterol LDL akan menumpuk pada dinding pembuluh
darah arteri koroner yang menyebabkan penyumbatan. Karena itu LDL disebut
dengan kolesterol jahat (Toha, 2001).

            Kolesterol berasal
dari organ binatang terutama bagian otak, kuning telur, dan jeroan. Demikian
juga produksi yang berasal darinya seperti susu asli, keju, mentega, dan
lain-lain. Sementara bahan makanan yang berasal dari tumbuhan tidak mengandung
kolesterol. Dengan demikian, cara yang paling efektif dalam mengurangi kadar
kolesterol dalam tubuh dapat dilakukan dengan mengkonsumsi sayuran dan buah –
buahan (Nilawati, 2008).

            Menurut Nilawati
(2008), juga mengemukakan bahwa kelebihan kolesterol dapat menyebabkan zat
tersebut akan bereaksi dengan zat – zat lain dalam tubuh dan akan mengendap
dalam pembuluh darah arteri. Kemungkinan yang akan terjadi selanjutnya adalah
penyepitan dan pengerasan pembuluh darah (atherosklerosis) hingga penyumbatan
dan pemblokiran aliran darah. Hal seperti itu akan mengakibatkan jumlah suplai
darah menuju ke jantung akan berkurang sehingga terjadi sakit nyeri di bagian
dada yang disebut dengan  angina dan
bahkan akan menjurus ke serangan jantung.

            Kolesterol
merupakan suatu molekul lemak di dalam sel yang teragi atas LDL, HDL, total
kolesterol dan trigliserida. Kolesterol merupakan komponen dari lemak yang
merupakan salah satu sumber energi. Kolesterol merupakan bahan dasar
pembentukan hormon – hormon steroid. Kolesterol yang dibutuhkan oleh manusia
secara normal diproduksi sendiri oleh tubuh dalam jumlah yang tepet. Namun,
jumlah kolesterol dalam tubuh dapat meningkat dikarenakan asupan makanan yang
berasal dari lemak hewani, telur, dan makanan junkfood. Kolesterol dalam tubuh
yang berlebihan akan tertimbun di dalam dinding pembuluh darah dan akan
menimbulkan suatu kondisi yang disebut dengan atherosklerosis yaitu penyempitan
atau pengerasan pembuluh darah (Indica, 2010).

2.3 Ekstraksi Soxhlet

            Ekstraksi
merupakan proses yang dilakukan untuk memisahkan komponen yang diinginkan yang
terkandung dalam suatu bahan dengan menggunakan pelarut yang sesuai agar
diperoleh bahan tersebut dengan mudah. Ekstraksi bertujuan untuk mengambil
komponen – komponen zat yang ada di dalam bahan tersebut. metode ekstraksi ini
didasari oleh perpindahan komponen zat yang ada dalam bahan kedalam pelarut
yang digunakan. Perpindahan ini terjadi pada lapisan antar muka, yang kemudian
didifusi masuk kedalam pelarut. Metode ekstraksi yang tepat dapat dilihat dari
tekstur kandungan air yang ada dalam bahan yang diekstrak serta jenis senyawa
yang diektraksi. Untuk mengekstrak bahan seperti minyak dan dari jaringan yang
kering, dapat dilakukan dengan menggunakan metode ekstraksi yang menggunakan
alat soxhlet (Pandinawinata, 1991).

            Ekstraksi dengan
menggunakan alat soxhlet biasanya digunakan untuk mengekstrak komponen zat
kimia yang tahan terhadap panas dan digunakan dalam jumlah yang sangat kecil
karena keterbatasan daya tampung alat soxhlet tersebut. Hal – hal yang harus
diperhatikan dalam penggunaan ekstraksi soxhlet ini yaitu suhu pemanasan. Suhu
pemanasan yang digunakan dalam ekstraksi ini harus sesuai dengan bahan yang
akan diekstrak, karena pada perlakuan suhu yang tinggi dapat menyebabkan
terjadinya perubahan dan penguraian senyawa – senyawa yang diisolasi. Bahan
yang diekstrak menggunakan alat soxhlet ini berupa padatan yang dihaluskan atau
dicincang untuk memperbesar luas permukaan dari bahan yang diekstrak. Jika
bahan yang diekstrak masih mengandung air, dilakukan pengeringan bahan terlebih
dahulu dengan menggunakan oven. Bahan yang akan diekstrak, dimasukkan kedalam
selongsong kertas saring dan kemudian dimasukkan kedalam alat soxhlet. Bagian
atas dari alat ini disambungkan dengan kondensor, dan bagian alasnya
disambungkan dengan labu alas bualat sebagai tempat pelarutnya. Pelarut yang
ada di dalam labu dipanaskan, uap yang terbentuk akan naik, mengembun dalam
kondensor dan akan jatuh titik – titik air pada ruang soxhlet. Setelah ruang
soxhlet terpenuhi oleh pelarut sampai batas tertentu, pelarut tersebut akan membawa
solut turun ke labu alas bualat. Proses tersebut akan berlangsung sampai
mencapai 20 sirkulasi (Rusdi, 1990).

            Menurut Pambayun,
dkk (2007) keuntungan ekstraksi menggunakan alat soxhlet ini yaitu dapat
digunakan untuk sampel dengan tekstur yang keras dan tahan terhadap pemanasan.
Membutuhkan pelarut yang sedikit dan waktu pengerjaan yang lama. Sedangkan
kerugian yang didapat yaitu cara pengerjaan dengan menggunakan alat yang rumit
serta membutuhkan waktu yang lama.

            

Post Author: admin

x

Hi!
I'm Stuart!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out